English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Lasuna Mandar

Mempertanyakan Keaslian Lasuna Mandar (Bawang Mandar)

Mandar Dagang (Pasar Onlainna To Mandar)

Yuukk Gabung, Klik Dan Posting Iklan Anda!"Gratis"

Prof. Dr. H.Baharuddin Lopa, M.H

Sang Pendekar Hukum yang lahir di tanah Mandar.

Rumah Adat Mandar

Salah satu rumah adat mandar yang terletak di Kecamatan Tinambung Kabupaten Polewali Mandar Provinsi Sulawesi Barat.

Ikan Terbang / Tuing-tuing ( mandar)

SEL

Sel merupakan unit struktural dan fungsional terkecil dalam tubuh makhluk hidup.

Senin, 10 Maret 2014

Festival Sungai Mandar 2014 Sukses Berat

POLEWALI – Festival yang namanya mengusung kebudayaan sungai, yakni Festival Sungai Mandar, selesai digelar oleh Uwake’ Culture Foundation bekerjsama harian Radar Sulbar dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Polewali Mandar kemarin lusa di Tinambung, Minggu 9 Maret.
Kegiatan yang berlangsung pada 7 – 9 Maret tersebut sukses menggelar beberapa kegiatan yang telah dijadwalkan. Menurut Rahmat Muchtar, ketua panitia, “Syukurkah kegiatan ini kami bisa tunaikan dengan baik. Meski ada beberapa kegiatan yang tidak dilaksanakan seperti yang ada dijadwal, misalnya orasi beberapa pihak, secara umum kegiatan berjalan lancar. Kami menyampaikan terima kasih kepada teman-teman komunitas dan pendukung acara ini.”
Pada malam pertama kegiatan, panitia melaksanakan diskusi tentang Sungai Mandar. Kegiatan yang dihadiri beberapa tokoh masyarakat Tinambung tersebut banyak membicarakan kondisi Sungai Mandar lampau dan harapan-harapan ke depan tentang Sungai Mandar.
Salah satu dosen Universitas Negeri Makassar yang datang khusus ke Tinambung untuk menyaksikan acara Festiva Sungai Mandar, Andi Agus Salim, menyampaikan di acara diskusi, “Hendaknya Sungai Mandar diposisikan sebagai orang yang kita cintai. Misalnya sebagai isteri kita, sebab dengan demikian, perlakuan kita terhadap Sungai Mandar akan berbeda. Kan tidak mungkin kita sebagai suami mengotori isteri kita.”
Esoknya, 8 Maret, mulai sore sampai tengah malam dilaksanakan beberapa pementasan oleh beberapa komunitas. Mulai dari SD yang berasal dari Passau Majene, komunitas di Mamuju hingga komunitas di Polewali, yakni Madatte Art.
Foto:Muhammad Ridwan Alimuddin
Pertama kalinya terjadi di Sulawesi Barat, pementasan-pementasan berkualitas dipertontonkan dalam satu malam. “Performance art” Sri Wahyni, alumni Institur Seni Yogyakarta, memberi kesan mendalam bagi masyarakat Tinambung. Dengan mengenakan mukenah, dia berdiri di antara panggung dengan penonton. Setelah menyampaikan orasi, dia berdiam. Sesaat kemudian, sampah dilemparkan ke tubuhnya. Setelah itu dia berkata, “Saat ini saya adalah Sungai Mandar. Ketika Anda membuang sampah ke sungai, itu seperti Anda melempari isteri atau anak Anda dengan kotoran.” Sebuah penampilan singkat yang sarat makna.
 
Foto : Muhammad Ridwan Alimuddin

Selain pementasan pementasan musik, juga ada pementasan teater. Aktor muda berbakat dari SMA 2 Majene cukup memukau penonton. Acara malam kedua ditutup dengan pementasan komedi oleh mahasiswa Seni dan Desain UNM yang berjudul “Rambo”.
Keesokan harinya, Minggu 9 Maret, mulai dari jam sembilan pagi hingga jam 12 siang, dilangsungkan lomba dayung “lepalepa” dan renang. Acara disaksikan langsung sampai selesai Direktur Utama Radar Sulbar, Naskah M Nabhan.
Sore harinya, Festival Sungai Mandar ditutup. Sebelumnya dilakukan karnaval keliling kota Tinambung oleh beberapa siswa SD dan sekolah menengah di Tinambung bersama komunitas Uwake’ dan penyerahan hadiah ke pemenang lomba “lepalepa” dan renang. Dalam karnaval, mereka mengenakan “perhiasan” dari sampah.

Belajar Saeyyang Pattuqduq
Selain mempelajari kegiatan-kegiatan di FSM, mahasiswa UNM juga melakukan kunjungan ke Pambusuang, menyaksikan kegiatan “saeyyang pattuqduq”.
Menurut dosen pendamping mereka, Andi Agus Salim, “Melakukan kunjungan langsung ke lapangan dan menyaksikan tradisi atau kebudayaan setempat amatlah penting. Ilmu di ruang kelas masih sangat sedikit, di lapangan itu amat banyak. Nah, kunjungan kami ke Mandar ini, yang membawa dua kelas, adalah salah satu bentuk perkuliahan kami di UNM, yakni dalam hal pendokumentasian.”
Sebelum menyaksikan arak-arakan “saeyyang pattuqduq”, para mahasiswa diberi pengetahuan tentang sejarah dan kebudayaan tradisi tersebut. Materinya diberikan oleh Muhammad Ridwan Alimuddin, pendokumentasi bentuk-bentuk kebudayaan Mandar. Kegiatan yang nampak seperti kuliah umum tersebut dan berisi sesi tanya jawab dilaksanakan di kolom rumah salah satu warga Pambusuang.
“Saeyyang pattuqduq cukup menarik, kami tak bisa saksikan di tempat lain. Hanya ada di Mandar,” terang salah satu mahasiswa UNM. Saat arak-arakan “saeyyang pattuqduq” melintas, mahasiswa UNM cukup antusias dan terlibat langsung. Mereka ikut bergoyang-goyang dan memukul-mukul rebana.
Sumber : www.ridwanmandar.com

Rabu, 05 Februari 2014

Muhammad Darwis Hamzah, Bapak Intelektual Mandar

Generasi Mandar yang lahir akhir 70-an, tahun 80-an hingga 90-an lebih banyak mendengar; lebih mengenal Husni Djamaluddin, M. Subair, Muis Mandra, Darmawan Masud, Suradi Yasil, Syaiful Sinrang sebagai budayawan besar Mandar. Namun ada satu sosok oleh nama-nama yang saya sebut di atas menganggap tokoh tersebut sebagai budayawan terbesar Mandar. Malah Nurdin Hamma mengatakan, sosok tersebut adalah salah satu peletak dasar gerakan intelektual di Mandar. Dia adalah Muhammad Darwis Hamzah. 
Foto : Muhammad Ridwan Alimuddin
Muhammad Darwis Hamzah, cendekiawan sekaligus seorang ulama kesekian yang lahir dari Pambusuang, tepatnya 12 Desember 1938. Mungkin karena wafat lebih dulu dibanding tokoh-tokoh di atas (kecuali Suradi Yasil yang masih hidup), 23 Maret 1988 di Kendari (Sulawesi Tenggara), karya dan pemikiran Muhammad Darwis Hamzah tak begitu dikenal dewasa ini.


Sebagai bentuk penghormatan kepada diri beliau dan memperjelas ke generasi sekarang akan bentuk pewarisan tradisi keilmuan, kecendekiaan, keintelektualan di Mandar, maka oleh beberapa sahabat Muhammad Darwis Hamzah yang masih hidup, khususnya Suradi Yasil dan Nurdin Hamma, merencanakan kegiatan untuk mengenang Muhammad Darwis Hamzah. “Wan, kumpul data dan informasi tentang Pak Darwis,” instruksi Nurdin Hamma kepada saya suatu waktu.

Sebagai langkah awal, tulisan ini saya buat (dengan referensi utama Ensiklopedi Sejarah, Budaya dan Tokoh Mandar karya Suradi Yasil). Tujuannya, mengenalkan secara sekilas tentang Muhammad Darwis Hamzah dan sebagai referensi awal kepada para pembaca. Maksudnya, mungkin ada pembaca yang memiliki informasi mengenai Muhammad Darwis Hamzah. Nah, jika berkenang, informasi tersebut di-share kepada kami sebagai bahan untuk pembuatan tulisan lebih mendalam.

Adalah kebanggan bila tulisan dimuat di media arus utama nasional, semisal Kompas. Sekarang relatif lebih mudah dibanding dulu. Dan tokoh Mandar yang pemikirannya dimuat Kompas, Panji Masyarakat, dan PRISMA (dua yang terakhir cukup berpengaruh secara nasional dua dekade lalu) adalah Muhammad Darwis Hamzah. Sampai di sini saja sosok keintelektualannya yang menasional tergambar jelas.

Muhammad Darwis Hamzah kecil, sebagaimana umumnya anak-anak di Mandar, menuntut ilmu sekolah rakyat dikampungnya, yakni di Pambusuang (saat ini masuk wilayah Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar). Tamat SR, melanjutkan sekolah di SGB Wonomulyo. Menariknya, setelah tamat SGB, Muhammad Darwis Hamzah menuntut ilmu ribuan kilometer ke utara, tepatnya SGA Tomohon, Sulawesi Utara. Saya belum tahu persis apa alasan sehingga Darwis muda berani meninggalkan kampung halamannya. Tapi di Tomohon tidak sampai tamat, beliau pindah untuk kemudian tamat di SGA Makassar.

Selesai di SGA Makassar, akhir tahun 50-an Muhammad Darwis Hamzah lanjut di Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin, Jurusan Sastra Barat dan Filsafat. Di Unhas pernah menjadi pengurus senat mahasiswa sebagai sekertaris senat. Yang mana ketuanya senatnya Ishak Ngeljaratan (saat ini dosen Filsafat Unhas). Adapun Ketua BEM-nya saat itu adalah Prof. Mattulada (mantan rektor Universitas Tadulako).

Dari Universitas Hasanuddin, Muhammad Darwis Hamzah pergi ke Amerika untuk menuntut ilmu manajemen di Universitas Iowa. Menurut anaknya, Sri Musdikawati, “Bapak juga pernah ditawari kuliah di Jerman, tapi karena meletus peristiwa Irian Barat, itu tak jadi.”

Kembali ke kampung halamanannya di Mandar, Muhammad Darwis Hamzah aktif di bidang organisasi politik, aktif dan pernah menjadi Ketua Umum Dewan Pimpinan Cabang Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) Kabupaten Polmas. Ketua Bapendik, organisasi di bidang pendidikan yang menyelenggarakan Musyawarah Pendidikan di Polewali, dan kegiatan-kegiatan lainnya di bidang pendidikan di Kab. Polmas. Dari Bapendik lahir beberapa lembaga pendidikan di Polewali seperti Sekolah Lanjutan cikal bakal SMU Negeri 1 Polewali, Sekolah Pertanian Pembangunan, Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP) yang sekarang menjadi SLTP Negeri 2 Polewali.

Pada tahun 1971 mempelopori penyelenggaraan Seminar Kebudayaan Mandar yang pertama di Tinambung Kecamatan Tinambung Kabupaten Polmas. Seminar dihadiri sejarawan dan budayawan dan berbagai kalangan dari dalam dan luar daerah Mandar. Sejak muda Muhammad Darwis Hamsah selalu turut serta dalam berbagai organisasi kepemudaan, mengikuti pelatihan-pelatihan, dan seminar-seminar.

Pada pelaksanaan seminar lebih hampir dua puluh tahun kemudian dari seminar Mandar I, Muhammad Darwis Hamzah hadir dan berbicara pada Seminar Kebudayaan Mandar, 25 – 28 November 1987 di Polewali yang diselenggarakan oleh STKIP-DDI Polmas, merupakan penampilan terakhirnya di antara tokoh sejarawan dan budayawan Mandar dalam suatu pertemuan dan reuni besar-besaran di antara mereka bersama peserta lainnya dari daerah Mandar dan dari luar daerah Mandar. Waktu itu Muhammad Darwis Hamzah tinggal di Jakarta.

Kehebatan Muhammad Darwis Hamzah yang belum ada menyamainya hingga sekarang adalah beliau seorang pembicara yang piawai dalam bahasa Indonesia dan bahasa Mandar (sebagai bahasa ibunya) yang biasa diselingi dengan bahasa dan kutipan dari lontar yang sudah jarang dipakai dalam masyarakat Mandar. Dan, juga mampu berbahasa Inggris dengan baik. Muhammad Darwis Hamzah bukanlah intelektual yang “abangan”. Beliau juga seorang santri. Itu ditandai dengan keaktifannya berdakwah dan sering tampil menjadi khatib pada salat Jumat. Juga patut diteladani generasi sekarang, walau kecerdesan dan keintelektualannya tak ada yang meragukan, beliau sama sekali tidak mau jadi pegawai negeri.

Muhammad Darwis Hamzah terakhir bekerja pada Lembaga Studi Pembangunan (LSP), Jalan Kebun Jeruk Nomor 20, Palmerah, Jakarta, dengan jabatan Manajer Pemasaran. Yang mana di lembaga tersebut, tokoh nasional yang menjadi koleganya adalah Adi Sasono (mantan Menteri Koperasi, tokoh ICMI).


Muhammad Darwis Hamzah memiliki beberapa anak, yaitu Dra. Nurmala Darwis, Nursadar, S. Pd., Prof. Dr. Chaerul Anam, M. Si., Dra. Sri Musdikawati, M. Si.,Askarullah Darwis, S. S., M. Pd., dan Vidya. Adapun isterinya adalah Puturi, akrab disapa Ammaqna I Mala.

Sewaktu hidup, Muhammad Darwis Hamzah dikenal tidak pernah dan tidak suka tinggal berlama-lama di suatu tempat. Itu adalah gambaran jiwa dan wataknya yang dinamis. Tahun-tahun menjelang kematiannya lebih banyak tinggal dan bekerja di Jakarta. Ketika bertugas di Kendari, Sulawesi Tenggara, menjadi konsultan pada BAPPEDA Provinsi Sulawesi Tenggara berdasarkan kerja sama Pemerintah Daerah Tingkat I Sulawesi Tenggara dengan LSP lembaga tempatnya bekerja, diserang penyakit lever yang membawanya kembali menghadap Allah swt. Keluarga dari Sulawesi Selatan pergi menjemput dan membawa pulang jenazahnya ke tanah leluhurnya untuk kemudian dimakamkan di Pekuburan Islam, Polewali [.]
sumber: www.ridwanmandar.com

Selasa, 04 Februari 2014

“Gogos Kambu”, Siapa yang Tak Tergoda Aromanya“
Gogos Kambu Makanan Tradisional Mandar yang enak dan Maknyos. Buaanggaattt. Mantap dihidangkan dalam berbagai acara2!!!! Harga murah meriah, hanya IDR 10.000 untuk 8 (Delapan) Bungkus di Desa Tandung Kec. Tinambung. Di jual hanya waktu sore setiap hari. Nb : Biasanya Cepat Habis.”

Itu kutipan iklan “gogos” plus foto “gogos”, yang diunggah salah satu putra Mandar, bernama alias, Abbe Hasby Makkarana, di group Dagang Mandar, Facebook. Sepertinya itu salah satu iklan pertama tentang “gogos” di dunia maya.

Unggahan iklan tersebut tidak bertujuan seperti iklan-iklan lain yang menayangkan akan dapat keuntungan materi. Sebab si penguggah bukanlah penjual “gogos”, dia mahasiswa yang kuliah di Makassar. Dia berlandas pada kepedulian akan khazanah kebudayaan Mandar, khususnya di bidang kuliner. Sekaligus mengkampanyekan bahwa ada makanan bersahaja tapi menarik di Mandar. Namanya “gogos”, hanya dua suku kata: go dan gos. Tak ada makna, sebagaimana nama kue lain, misal “golla kambu” yang berarti gula yang dibungkus.

foto : Muhammad Ridwan Alimuddin

“Gogos” identikan dengan serbuk ikan di bagian tengah. Namanya “kambu”. Dan “gogos” yang enak adalah “gogos kambu”. “Gogos” tak ber-“kambu” bagai makan sayur tanpa garam. Tapi ada juga yang menyukai “gogos” tanpa “kambu”, sebagaimana informasi dari penjual “gogos” di selatan Kompleks Pasar Baru Mamuju, Ammaq Harbiah atau Jaizah. Katanya, “Kadang saya buat gogos 3-4 bungkus yang tidak berkambu sebab ada yang cari begituan.”

Tiga pekan terakhir saya membandingkan tiga penjual “gogos” di tiga tempat: Camba-camba (Limboro), Katitting (Tinambung), dan Mamuju. Ada kesamaan yang menarik perhatian: para penjual selalu memberi bonus satu “gogos”. Normalnya harga “gogos” di Camba-camba dan Katitting adalah Rp 8.000 untuk 10 “gogos”. Uniknya, saya ditambahi satu “gogos”. Demikian halnya di Mamuju, satu “gogos” harganya Rp 2.000. Pernah saya beli dua, saya dikasih satu. Saya menyimpulkan, bahwa para penjual “gogos” (demikian juga sistem perdagangan tradisional lainnya di Mandar) tak melulu mengartikan bahwa 1 + 1 sama dengan 2. Ada nilai humanis di situ, tidak seperti di mall-mall yang transaksinya berdasar mesin.

Entah siapa yang pertama kali menciptakan makanan bernama “gogos”. Dan sepertinya bukan makanan yang indigen atau hanya ada di Mandar. Sebab juga ada di daerah lain di Sulawesi Selatan. Yang jelas, makanan tersebut sudah digolongkan sebagai salah satu makanan khas di daerah ini.

“Gogos” adalah makanan yang terbuat dari beras pulut atau “pare puluq” dalam Bahasa Mandar. Cara buatnya kira-kira sebagai berikut: beras pulut dimasak bersama santan dan sedikit garam. Ketika masak, itu disebut “sokkol”. Ketika dibuat seperti batang, ukuran antara 10-15 cm berdiameter 4-5 cm dan bagian tengahnya dimasukkan serbuk ikan atau “kambu” maka dia disebut “gogos”.

“Sokkol” yang dibuat batangan tersebut kemudian dililit daun pisang. Kedua ujungnya masih kelihatan. Kemudian dibungkus lagi daun pisang, seperti bungkusan permen. Yakni ada bagian memanjang di kedua ujungnya. Agar tak terbuka, bagian ujung diikat menggunakan “pappas”. Sejenis tali yang berasal dari serat daun sejenis lontar. Bahasa lokalnya daun “lanu”.

“Pappas hanya bisa didapat di Polewali Mandar. Makanya tiap tiga bulan saya ke sana untuk membeli,” cerita Ammaq Harbiah. Dia juga menjelaskan bahwa tali sejenis tali rafia (“rumpuq jepang”) tak bisa digunakan sebab akan meleleh. Sebelum dibakar, “gogos” mentah diolesi santan. Inilah sumber aroma “pembuat lapar” yang juga menyebabkan “gogos” terasa berminyak.

Bahan yang digunakan untuk membakar “gogos” adalah sabut kelapa (benu). Nyaris tak ada bahan bakar lain yang bisa digunakan membakar “gogos” selain bahan tersebut. “Setiap hari ada yang datang menjual benu-nya ke sini,” terang Ammaq Harbiah.

Ammaq Harbiah adalah orang Majene yang sudah lama bermukim di Mamuju. Dia tidak ingat lagi tahun berapa dia datang. Dulu dia menjual “gogos” di Majene untuk kemudian ke Wonomulyo. Belakangan mengadu nasib di Mamuju.

Awalnya ke Mamuju sendiri saja. Setelah stabil sebagai penjual “gogos”, suami dan anaknya diajak serta ke Mamuju. “Dulu saya jual di situ, tanah H. Zikir. Karena akan dibuat bangunan, saya pindah ke sini,” kata Ammaq Harbiah sambil menunjuk salah satu bangunan di dekatnya.

Walau terlihat sederhana, membuat “gogos” pekerjaan yang membutuhkan tenaga ekstra. Ammaq Harbiah mulai membuat bahan baku (“sokkol”) setelah Azhar. Malamnya dia dibantu suami dan dua anak perempuannya membungkus. Itu berlangsung sampai jam 11 malam. Keesokan harinya, setelah shalat Subuh, Ammaq Harbiah mulai beraksi membakar “gogos” di sisi Jl. Diponegoro, samping pasar.

Ammaq Harbiah juga menjelaskan strategi “packaging” akan “gogos-nya”. Katanya, “Dulu gogos itu kan satu isinya. Itu harganya Rp 1.000. Sekarang daun pisang mahal, agar hemat, dalam satu bungkus diisi dua gogos. Jadi harganya Rp 2.000, sebagaimana harga dulu. Meski terlihat sama, ada keuntungan karena jumlah daun yang digunakan berkurang.”

Adapun penjual “gogos” di Tinambung masih mempertahankan isi “gogos” adalah satu batang. Mungkin karena di sana pangsa pasar atau tingkat konsumsi “gogos-nya” tinggi, maka keuntungan lebih banyak.

“Sekarang sepi pembeli, kan tanggal tua. Juga maulid, banyak yang buat sokkol dan gogos,” terang Ammaq Harbiah. Maksudnya, jika tanggal muda, banyak yang datang beli “gogos”. Demikian juga ketika lebaran, “gogos-nya” laku keras.

Sosok Ammaq Harbiah dan penjual-penjual “gogos” ada banyak di Sulawesi Barat. Mereka adalah pewaris salah satu tradisi unik kita dalam dunia kuliner. Sesederhana apapun “sokkol”, sebagai makanan sangat dirindukan, apalagi yang tinggal di perkotaan.

Itulah yang menyebabkan “sokkol” di Katitting yang telah memasang papan nama di depan tempat membakarnya laku keras. Konsumen utamanya para penumpang yang melintas di jalan Trans Sulawesi. Rata-rata omzet per harinya Rp 800.000.

“Gogos” bisa lestari sebab ada banyak di dalam masyarakat kita yang mengkonsumsinya. Idealnya begitu juga dengan makanan-makanan tradisional lain di Mandar yang sudah mulai jarang. Misalnya “apang”, “pasoq”, “kui-kuiq”, “talloq panynyu”, dan lain-lain. “Golla kambu” masih lumayan sebab ada sentranya di Campalagian.

Mudah-mudahan “gogos” masih lestari, sebab jika tidak, maka “pupuq” (salah satu makanan tradisional Mandar yang terbuat dari ikan, berbentuk segitiga) akan kesepian.
sumber : www.ridwanmandar.com

Kuliwa Tugu Mandar Ala Kompa Dansa Mandar

Kuliwa Tugu Mandar Ala Kompa Dansa Mandar
Selasa 4 Februari 2014 Komunitas Penggiat Budaya dan Wisata Mandar Wilayah Makassar mengadakan sebuah trip di Anjungan Pantai Losari Makassar di Monumen Mandar pada pukul 16.30 WITA yaitu Makkuliwa Monumen Mandar dan beberapa tugu-tugu dari mandar. Acara ini dihadiri oleh teman-teman Kompa Dansa Mandar Makassar dan teman-teman dari beberapa Organda Sulbar seperti KPM-PM, IM3 dan IPPMIM. Selain itu juga dihadiri Ibu We Dala Uleng (salah satu admin grup La-Ogi) dan Ibu Andi Ida Mappatoba (memiliki jalur kekerabatan dengan Andi Depu).
Acara "Makkuliwa" ini sendiri sangatlah sederhana karena hanya menyajikan salah satu makanan khas mandar yaitu "Uleq-uleq Tarreang". Makkuliwa merupakan sebuah budaya di mandar yang melakukan sebuah prosesi baca-baca doa keselamatan kepada benda-benda baru yang mau digunakan. Kebetulan di Makassar ada monumen mandar yang baru berdiri jadi kami berinisiatif untuk melakukan "Makkuliwa.
Admin utama Kompa Dansa Mandar menyampaikan bahwa, Kmren itu saya lebih menekankan pada sejarah dan awal mula kompa dansa mandar berdiri. Dulu tidak mau dibawa ke konsep offline hanya maunya online, Akan tetapi desakan teman-teman admin wilayah lain sperti polman dan mamuju hingga kami buat jadi offline, tutur Tommuane Mandar. Trip ini adalah salah satu kesyukuran dan terima kasih kami kepada pemerintah kota Makassar yang masih mengingat mandar meskipun secara adiministratif sudah terpisa dan Sul-Sel. Makkuliwa ini merupakan acara pertama dari masyarakat mandar yang berada di makassar meskpiun pemerintah Sul-Bar belum mengadakan hal yang sama.

Sementara pembacaan doa dibawakan sendiri oleh Subhan Saleh (pemuda asal pambusuang ). Setelah itu dilanjutkan dengan acara perkenalan nama facebook dan nama asli, diskusi-diskusi tentang kebudayaan dan wisata mandar dan juga kegiatan foto-foto di beberapa tugu mandar. Acaranya cukup berlangsung ramai dan penuh dengan kekeluargaan meskipun banyak diantara teman-teman kompa dansa mandar bertemu untuk pertama kalinya. 

Awalnya Kompa Dansa Mandar hanya di wisata tapi kemudian bergerak ke budaya, sejarah, pendidikan dan lingkungan. Hal ini bertujuan agar-agar masyarakat mandar itu sendiri bisa mengenal wisata dan budaya di negeri sendiri. Selain itu juga teman-teman dimotivasi untuk belajar menulis segala konten budaya dan wisata mandar dan juga melakukan promo-promo kuliner khas mandar.

Minggu, 05 Januari 2014

Mempertanyakan Keaslian Lasuna Mandar ( Bawang Mandar ) Part I


Mendengar kata bawang mungkin tidak akan terlalu asing di telinga kita, karena salah satu tumbuhan ini hampir setiap hari kita mengkonsumsinya. Bahkan tanpa ada tanaman ini rasa sebuah masakan terasa sangat kurang ibarat kata sebuah pepatah “ bagaikan sayur tanpa garam”. Tanaman ini sendiri sangatlah mudah kita dapatkan karena di setiap pasar selalu tersedia untuk dijual , bahkan bisa ditanam sendiri.

Bawang merah, bawang putih, bawang bombay dan bawang prey beberapa bawang tersebut sangatlah populer dan terkenal di Indonesia bahkan seluruh internasional. Akan tetapi bagaimana dengan bawang mandar (Bahasa mandarnya Lasuna Mandar)? Mungkin sebagian orang-orang bertanya-tanya bawang apa itu? Dari mana bawang itu? Apakah memang itu bawang atau bukan? Pertanyaan ini, secara pribadi saya juga terkadang lontarkan. Kemarin ketika saya kuliah di salah satu Universitas Sulawesi Barat jurusan pendidikan biologi (sekarang sudah keluar karena alasan tertentu). Biologi itu sendiri adalah sebuah ilmu yang mempelajari tentang seluk beluk makhluk hidup. Karena saya kebetulan ambil jurusan itu, tentu ingin mengetahui tentang kehidupan makhluk hidup. Nah, kali ini, saya termotivasi untuk mencoba melakukan penelitian terhadap salah satu tanaman yang populer di masyarakat mandar itu sendiri yaitu Lasuna Mandar ( Bawang Mandar ). Bawang Mandar ini sendiri selalu digunakan untuk memasak Bau Peapi sebuah masakan khas Mandar ( Link Resep Bau Peapi ).

Foto : www.kpbwm.or.id

Ketika itu saya mencoba sharing-sharing sama dosen saya yang kebetulan ada dari UNHAS, Budayawan Mandar ( Kak Muhammad Ridwan Alimuddin panggilannya kak iwan), masyarakat sekitar dan senior-senior dari UNHAS ( saya kenal teman-teman Unhas ketika mengajak teman studi banding kesana ). Beberapa jawaban belum ada yang bisa memverifikasi tentang tanaman ini bahkan ada yang menanyakan kembali hehehehehehehe. Ketika saya sharing sama kak iwan beliau mengintruksikan untuk melakukan pengamatan kecil-kecil dan saya mencoba tapi pada waktu itu tapi tidak mempublisnya.

Karena semakin penasaran, saya mencoba kembali browsing di internet dan memasukan kata (format image) “ Jenis-jenis bawang”. Ternyata eh ternyata, saya amati tidak ada gambar yang persis dengan bawang mandar. Maka timbullah pertanyaan yang luar biasa dalam diriku “ Apa memang lasuna mandar termasuk dalam jenis bawang ?”. Pada saat observasi dulu, sebagian masyarakat mengatakan kalau jenis bawang ini hanya bisa hidup di mandar sekitar di desa Pambusuang Kec. Balanipa Kab. Polewali Mandar. Mungkin karena itulah mereka menyebutnya Lasuna Mandar ( Bawang Mandar ). Insya Allah jika ada kesempatan saya akan menindaklanjuti. Terima kasih

Minggu, 03 Maret 2013

MEMBONGKAR GURITA CIKEAS

Buku Membongkar Gurita Cikeas Karya George Junus Aditjondro. Sahabat dapat mengunduhnya disini.
Semoga bermanfaat sahabat.

Link Download : Membongkar Gurita Cikeas

Kamis, 28 Februari 2013

BUKU KIMIA KELAS X SMA/MA


Buku Mudah dan Aktif Belajar Kimia untuk Kelas X Sekolah Menengah Atas/ Madrasah Aliyah. Sahabat dapat mengunduhnya disini. Semoga bermanfaat.

Link download : Kimia Kelas X SMA/MA